Menjadi UMKM Produktif Melalui Teknologi Tepat Guna

Indonesia kondang dengan julukan “negara maritim”. Julukan tersebut bukan didapat tanpa alasan tentu saja, topografi wilayah yang didominasi oleh perairanlah yang  mengantarkan Indonesia menyandang gelar tersebut. Beragam jenis biota laut hidup dengan baik di perairan Indonesia. Ribuan spesies ikan juga berkembang biak dengan baik. Tak heran jika Indonesia masuk nominasi daftar negara penghasil ikan terbaik di dunia.

Selain kaya ragam, ikan adalah komoditas laut yang sangat melimpah serta bernilai jual tinggi. Memberikan segudang manfaat membuat ikan sangat populer dikonsumsi oleh berbagai kalangan dan usia. Ikan dinobatkan sebagai salah satu sumber protein yang baik dengan nutrisi lainnya yakni asam lemak omega-3, DHA, vitamin D, kalsium, dan yodium yang sangat baik untuk kesheatan mata dan perkembangan otak juga terkandung dalam ikan.

Sssttt.. Mengkonsumsi ikan secara tepat ternyata bisa menurunkan resiko serangan jantung dan stroke loh!

Selain digoreng dan dibakar, ikan juga diolah menjadi berbagai bentuk produk makanan seiring dengan perkembangan jaman dan kreatifitas manusia. Kerupuk ikan menjadi salah satu produk pangan berbahan dasar ikan yang sangat menjanjikan di ranah pasar baik menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Selain karena harganya terjangkau rasanya pun juga lezat, apalagi masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan makan harus dengan kerupuk agar dirasa lengkap.

Gambar 1. Kerupuk ikan

Kali ini Dr. Maria Monica Sianita B.W., M.Si., ketua Tim Pelaksana PKM Unesa bersama dua anggotanya Dra. Niken Purwidiani, M.Pd dan Setya Chendra Wibawa, S.Pd., M.T menggandeng UMKM “Sholawat Ummi” sebagai mitra.

UMKM “Sholawat Ummi” didirikan oleh Ibu Munikah 2016 silam sebagai UMKM penghasil kerupuk ikan. Terletak di Desa Warulor RT/RW 06/04 Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, UMKM ini memiliki 4 orang pekerja tetap. Bermula dari coba-coba kini Ibu Munikah mulai merambah wilayah sekitar Lamongan bahkan keluar kota. Uniknya UMKM ini hanya menggunakan satu jenis ikan dalam produknya yakni ikan tonang. Dalam satu bulan UMKM ini mampu memproduksi 50kg-200kg kerupuk ikan dengan pendapatan berkisar Rp 1.250.000-Rp 5.000.000 per bulan.

Ibu Munikah mulai merasa kewalahan seiring dengan meningkatnya permintaan produk. Tim Pelaksana PKM melakukan observasi dan berhasil mengantungi fakta yang diduga menjadi penyebab penurunan produktivitas UMKM yaitu proses produksi menggunakan metode yang konvensional tanpa ada sentuhan teknologi sama sekali. Hal tersebut menyebabkan proses produksi memakan waktu lama dan tenaga besar.

Gambar 2. Proses pengadukan (atas) dan pemotongan (bawah) UMKM “Sholawat Ummi” secara konvensional

Berlatar belakang fakta-fakta diatas, Tim Pelaksana PKM melakukan peningkatan teknologi produksi pada UMKM “Sholawat Ummi”, lebih khusus berfokus pada proses pengadukan dan pemotongan adonan kerupuk ikan karena dua proses itu dianggap sebagai proses yang paling membutuhkan banyak waktu dan tenaga.

Proses pengadukan adonan adalah proses yang sangat krusial karena akan menentukan homogenitas tekstur, warna, dan cita rasa kerupuk ikan. Proses pengadukan secara konvensional sangat beresiko membuat adonan tidak tercampur dengan baik, selain itu keterbatasan tenaga telah membuat 40% permintaan kerupuk ikan tidak mampu dipenuhi oleh UMKM. Tim Pelaksana mengusulkan teknologi tepat guna mesin pengaduk dengan fasilitas pengontrol kecepatan.

Gambar 3. Introduksi mesin pengaduk kepada UMKM “Sholawat Ummi”

Adanya mesin pengaduk telah meghasilkan tekstur adonan yang lebih homogen dan kalis, tidak hanya itu manfaat lainnya adalah produk menjadi lebih higienis karena kontak dengan tangan sangat minimal.  Kehadiran TTG mampu meningkatkan efesiensi proses produksi mencapai 100% sehingga UMKM mampu memenuhi permintaan pasar.

Disisi lain pemotongan adonan juga mempengaruhi homogenitas ketebalan sehingga mempengaruhi tingkat kematangan kerupuk ikan. Untuk menghindari perbedaan ketebalan, dirancang teknologi tepat guna mesin pemotong yang dilengkapi pengontrol ketebalan.

Gambar 4. Introduksi mesin pemotong kepada UMKM “Sholawat Ummi”

Tak hanya fokus pada teknologi produksi, Tim Pelaksana juga melakukan peningkatan kualitas produk kerupuk ikan UMKM “Sholawat Ummi” melalui diversifikasi produk olahan ikan tonang dan introduksi ipteks penyempurnaan kemasan.

Diversifikasi produk olahan ikan tonang yang dikembangkan dalam kegiatan ini meliputi keripik kulit, cireng (aci goreng), petis, dan kerupuk ikan tonang yang dikombinasi dengan cumi. Pengembangan olahan ikan tonang ini tentu akan memperluas segmen pasar, selain itu semua bagian ikan termanfaatkan dimana dagingnya sebagai bahan dasar kerupuk dan cireng, kulitnya sebagai bahan dasar keripik, tulang sebagai bahan dasar petis.

Gambar 5. Produk hasil diversifikasi ikan tonang berupa keripik kulit (kiri atas), cireng (kanan atas), petis (kiri bawah), dan kerupuk cumi-ikan tonang (kanan bawah)

Kemasan berperan besar dalam penjualan produk karena ketika produk dipasarkan maka visual akan menjadi hal pertama yang diperhatikan. Visual kemasan sangat mempengaruhi minat konsumen. UMKM “Sholawat Ummi” masih menggunakan kemasan plastik dengan label dari kertas satu warna. Dengan adanya introduksi ipteks pengemasan diharapkan bisa meningkatkan daya terima masyarakat akan produk kerupuk ikan dan diversifikasi olahan ikan UMKM sebagai buah tangan atau oleh-oleh khas Lamongan.

Gambar 6. Introduksi ipteks pengemasan produk

Keberhasilan kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kerupuk ikan serta mampu memperluas segmen pasar produk olahan ikan “Sholawat Ummi” di masa yang akan datang.

Leave a Comment