Membentuk Desa Mandiri dan Sejahtera dengan Tanaman Herbal Empon-Empon

Kekayaan alam Indonesia memang patut disyukuri. Ada banyak jenis flora bukan hanya tanaman hias tapi juga tanaman herbal. Penggunaan tanaman herbal telah dipraktekkan sejak jaman mesir kuno. Di Indonesia sendiri penggunaan tanaman herbal begitu populer hingga sekarang, alasannya selain tanaman herbal dapat memelihara kesehatan tubuh tanpa efek samping, tanaman herbal juga mudah sekali didapatkan. Luar biasanya, jenis tanah Indonesia mampu menghadirkan lebih dari 30.000 jenis tanaman herbal di nusantara, jadi berbanggalah menjadi orang Indonesia!

Kecamatan Baureno, salah satu dari 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang terbagi menjadi 25 Desa, 90 Dusun, 175 RW, dan 461 RT. Dengan komoditas pertanian meliputi padi, jagung, bawang merah, kacang tanah dan tembakau, mayoritas penduduk Baureno bekerja sebagai petani/peternak dan buruh tani. Dua tahun terakhir sedang gencar-gencarnya digalakkan penghijauan untuk mendukung pencanangan desa Baureno sebagai “Desa Holtikultura”.

Tahun lalu Tim Pelaksana dari Unesa sudah ikut andil dalam mewujudkan Desa Bureno sebagai Desa Holtikultura. Melakukan observasi menemukan beberapa kelemahan pada kehidupan bermasyarakat salah satunya adalah limbah rumah tangga dengan kuantitas yang cukup besar. dengan membawa kegiatan pemisahan sampah, pemanfaatan sampah basah menjadi kompos, penggunaan kompos untuk tanaman herbal di pekarangan rumah, serta pengolahan tanaman herbal menjadi produk pangan. Kegiatan ini berfokus di RT 01 Desa Baureno.

Gambar 1. Kegiatan Tim Pelaksana bersama mahasiswa dan masyarakat Baurneo Bojonegoro tahun 2019

Kegiatan berjalan dengan sangat lancar dang diterima baik oleh warga. Hal ini karena kemauan yang tinggi dari warga sendiri untuk membangun desanya.

Ir. Asrul Bahar, M.Pd selaku ketua Tim Pelaksana PPDM bersama anggotanya Dr. Pirim Setiarso, M.Si dan Tanti Dewi, S.Si., DEA, melakukan perluasan dan pengembangan . Berusaha mensinergikan potensi topografi yang besar dan demografi serta daya terima konsumen terhadap produk olahan herbal Desa Baureno Bojonegoro untuk meningkatkan kemandirian yang berujung peningkatan kesejahteraan warga melalui pembentukan Sentra Tanaman Toga dan Produk Herbal. Tim Pelaksana merancang empat jenis kegiatan utama yakni kegiatan pemisahan sampah basah dan kering, pemanfaatan sampah basah dalam produksi kompos mandiri, budidaya komoditas toga termasuk empon-empon pada kompos warga, budidaya komoditas toga termasuk empon-empon secara hidroponik.

Sejalan dengan program Pilah Sampah Dari Rumah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019, Tim PPDM Unesa mengintroduksikan pemilahan sampah basah (sisa makanan & daun) dan kering (plastik & kertas) disetiap rumah. Dengan begitu masyarakat akan mampu mengelola sampah basah menjadi pupuk secara mandiri sedangkan sampah kering dapat dikumpulkan untuk kemudian secara kolektif dijual ke pihak kedua.

Gambar 2. Pengecatan tong sampah oleh warga sebagai instrumen dalam pemilahan sampah basah dan kering

Kompos merupakan campuran material organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, carang-carang dengan kotoran hewan yang mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Kompos mengandung hara-hara mineral yang esensial bagi tanaman. Pada tahapan kegiatan ini, proses pengomposan yang diintroduksikan pada warga Desa Baureno Bojonegoro akan menghasilkan pupuk bokhasi. Pupuk yang berhasil diproduksi secara mandiri nantinya akan diaplikasikan pada tanaman toga di rumah bahkan bisa dikomersilkan.

Gambar 3. Pengolahan sampah basah menjadi pupuk kompos secara mandiri

Selesai dengan pengelolaan sampah dan kompos, Tim Pelaksana beralih ke pembudidayaan toga secara mendiri dengan sembilan  jenis tanaman toga (empon-empon) yakni jahe gajah, jahe emprit, jahe merah, kunyit, kunyit putih, kencur, temulawak, lengkuas, dan paprika. Pembudidayaan ini dilakukan pada 2 (dua) lokasi yang berbeda, yaitu: pada pekarangan dan lahan kosong di lingkungan perumahan warga maupun lokasi wisata embung Desa Baureno-Bojonegoro.

Gambar 4. Penanaman toga (empon-empon) oleh warga dan Tim Pelaksana

Keberhasilan pembudidayaan empon-empon di lingkungan sekitar perumahan warga desa ini diharapkan tidak hanya akan mampu membantu memenuhi kebutuhan konsumsi warga desa terhadap olahan herbal, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam skala yang lebih luas. Sehingga, dalam jangka panjang, keberhasilan kegiatan ini tidak hanya akan meningkatkan kesehatan dan ketahanan warga Desa Baureno-Bojonegoro dalam melawan serangan penyakit, tapi juga meningkatkan pendapatan penduduk Desa Baureno Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Layaknya pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Leave a Comment