Unesa Kawal UMKM Beralih ke Teknologi Pangan

Pangan adalah  kebutuhan yang sangat mendasar bagi kelangsungan hidup manusia. Berbagai sumber panganpun dimanfaatkan untuk memenuhi hal tersebut, baik hayati maupun hewani. Beberapa yang populer sejak dulu hingga sekarang adalah daging dan kentang. Siapa yang tidak suka daging? Dengan rasa gurih dan tekstur yang membuat siapapun ingin terus mengunyah, daging menjadi favorit semua kalangan dari zaman purba hingga sekarang. Kentang sendiri semakin mendapat perhatian, digadang sebagai karbohidrat rendah gula.

Karbohidrat yang terkandung di dalam 100 gram kentang mencapai 19,1 gram. Tidak hanya itu, protein, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, fosfor, besi, kalsium, dan kalori sebesar 83,0-85,0 kal juga ada. Kentang dapat dikembangkan menjadi bahan baku produk pangan hayati yang lebih bernilai, salah satunya adalah donat kentang. Donat kentang merupakan produk yang mampu merambah semua kalangan, mulai dari kalangan bawah hingga atas dan membutuhkan bahan serta peralatan yang relatif sederhana.

Gambar 1. Kentang

Daging bahan pangan yang bernilai gizi tinggi karena kaya akan protein, lemak, mineral serta zat lainnya yang sangat dibutuhkan tubuh. Dalam 100 gram daging merah saja terkandung mineral Fe dan Zn yang dapat mencukupi lebih dari seperempat kebutuhan harian mineral pada orang dewasa. Komponen besi (Fe) bertugas mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, mengangkut elektron di dalam sel, serta berperan dalam berbagai reaksi enzim. Taukah Anda, kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia sehingga mempengaruhi produktivitas kerja, penampilan kognitif dan sistem kekebalan tubuh. Mengerikan sekali bukan?

Gambar 2. Daging sapi

Sama seperti kentang, daging juga dapat dikembangkan menjadi suatu bahan baku untuk menciptakan suatu produk pangan hewani yang lebih bernilai, bakso contohnya. Bakso adalah produk makanan berbentuk bulat yang diperoleh dari campuran daging ternak dan pati serta beberapa bumbu. Peralatan dan bahan serta proses pembuatan yang sangat sederhana juga mampu menjadikan peluang usaha ini layak dipertimbangkan.

“Auliya” merupakan salah satu UMKM di Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan yang memproduksi produk pangan hayati berupa donat kentang dan produk pangan hewani berupa bakso daging. Dirintis oleh seorang ibu rumah tangga yaitu Ibu Rasminah yang bertempat tinggal di Dsn. Deket Ds. Deketagung RT/RW 005/003 Kec. Sugio Kab. Lamongan sejak 2016, tapi sayang perkembangan usaha olahan pangan ini tidak tampak signifikan.

Gambar 3. Proses produksi donat kentang UMKM “Auliya”

Didukung oleh 4 (empat) orang tenaga kerja tetap, kuantitas produksi donat kentang dan bakso daging UMKM ini setiap bulannya mencapai 40-50 kg, dengan tiap kilogramnya masing-masing menghasilkan sebanyak 35 buah donat kentang dan 150 buah bakso daging. Produk donat kentang “Auliya” dijual dengan harga Rp 1.750,00/buah, sedangkan bakso daging “Auliya” dijual seharga Rp 1.000,00/buah.

Gambar 4. Proses produksi bakso daging UMKM “Auliya”

Tim Peneliti Unesa yang diketuai oleh Dra. Niken Purwidiani, M.Pd beranggotakan Dr. Pirim Setiarso, M.Si. melakukan analisis terhadap UMKM. Ditemukan tidak signifikannya usaha disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah produksi yang masih konvensional, kemasan produk yang minimal, kurangnya pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja.Dibantu oleh Putri Siska Agustina dan Luhana Ahadia sebagai mahasiswa pelaksana lapangan, Tim Peneliti mengintroduksikan beberapa kegiatan yang diprediksi mampu mengatasi kendala dari UMKM.

Introduksi teknologi produksi dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas produksi UMKM mitra ke depannya. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan UMKM mitra dalam memahami minat pasar serta introduksi pengemasan produk yang tidak hanya menarik dan informatif, namun juga harus mampu memperpanjang masa simpan produk menjadi fokus pengembangan usaha yang tidak dapat dikesampingkan.

Donat dan bakso adalah jenis makanan yang melalui tahap menjadi adonan sebelum dibentuk sesuai dengan ciri khasnya masing-masing. Nah, dalam tahap adonan inilah ada satu unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu homogenisasi atau kesempurnaan pencampuran bahan. Homogenisasi ini menjadi penentu hasil akhir dari produk, baik atau tidak.

Sayang sekali bahwa UMKM masih menggunakan metode yang konvensional termasuk proses pengadukan bahannya sehingga hasil tidak maksimal dan jumlah produksi terbatas karena keterbatasan tenaga pula. Tim Peneliti meyakini bahwa digunakannya teknologi mesin pengaduk bisa mengatasi masalah tersebut. Tidak hanya mendapatkan adonan yang sempurna tapi juga kuantitas yang maksimal.

Gambar 5. Proses produksi donat kentang UMKM “Auliya” dengan mesin pengaduk

Gambar 6. Proses produksi donat kentang UMKM “Auliya” dengan mesin pengaduk

Tidak kalah penting, pengemasan juga harus diperhatikan dalam suatu produk. Produk yang sudah baik haruslah diiringi dengan pengemasan yang baik pula. Fakta bahwa para konsumen tertarik pada suatu produk dengan melihat kemasan pertama kali tidak bisa dipungkiri. Tidak hanya desainnya menarik dan informatif tapi juga harus mampu memperpanjang masa simpan produk tersebut.Tim Peneliti mengintroduksikan mesin vacum untuk mewujudkan pengemasan yang dapat memperpanjang masa simpan produk donat dan bakso.

Gambar 7. Pengemasan produk donat dan bakso sebelum introduksi teknologi

Gambar 8. Pengemasan produk donat dan bakso setelah introduksi teknologi

Keberhasilan kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi serta mampu memperluas segmen pasar produk UMKM “Auliya” di masa yang akan datang.

Leave a Comment