Unesa Populerkan Hijab Pewarna Alam

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Umat muslim dikenal memiliki ciri khasnya berupa kaum wanita yang mengenakan hijab. Selaras dengan itu, bisnis hijab kini telah menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan dengan kebutuhan produk yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Gambar 1. Wanita muslim berhijab

Di era millenial ini para pelaku usaha hijab semakin fokus berinovasi pada motif dan jenis kain sebagai bahan baku. Itu hal bagus karena artinya kreatifitas pelaku usaha semakin meningkat. Tapi sangat disayangkan bahwa mereka belum sampai pada tahap mempertimbangan jenis pewarna yang digunakan. Faktanya, peredaran hijab saat ini masih didominasi oleh produk dengan pewarna sintetis yang banyak menghasilkan dampak negatif terhadap pengguna maupun lingkungan.

Video Tahapan Produksi Hijab pewarna alami

Tidak sedikit pengguna hijab mengeluh bahwa mereka menemukan hijab dengan pewarna yang luntur dan menempel di bagian leher maupun wajah saat dipakai. Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat hampir seluruh pewarna sintetis memiliki toksisitas yang tinggi dan ditengarai besifat karsinogenik sehingga memicu timbulnya kanker.

Tak cukup sampai disitu, sebanyak 15-85% dari total pewarna yang digunakan tidak mampu berinteraksi dengan baik pada serat kain dan terbuang sebagai limbah ke lingkungan. Saat hal itu terjadi maka partikel pewarna akan menghalangi sinar matahari masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan kematian organisme dan biota perairan. Lebih jauh lagi, sifat toksik dan mutagenik dari pewarna sintetik telah mempengaruhi kehidupan banyak organisme atau biota air dan bahkan bagi manusia sendiri yang mengkonsumsi air itu.

Seiring dengan digalakkannya sustainable fashion pada fashion hijab, satu diantara sekian banyak pelaku usaha hijab, UMKM “Najwa” yang berlokasi di Kabupaten Bojonegoro telah menemukan salah satu solusi untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh hijab dengan pewarna sintetis, yaitu dengan mengkonversinya menggunakan pewarna alam yang bersumber dari material kulit manggis, kulit kayu secang, dan kunyit.

Terkait hal ini, sejumlah hasil riset melaporkan bahwa material pewarna alam umumnya memiliki fungsi ganda, dimana selain berfungsi sebagai pigmen penghasil warna, pewarna alam juga menunjukkan sifat antimikroba dan aktivitas antioksidan, sehingga membuat hijab yang diproduksi dapat digunakan lebih lama tanpa disertai dengan kemunculan bau yang tidak sedap. Multi-benefit sekali bukan?

“Najwa” merupakan UMKM hijab yang berada di daerah Kabupaten Bojonegoro. Terbentuk pada tahun 2018, UMKM ini bergerak pada bidang fashion hijab pewarna alam dengan merek dagang “Najwa”. Minimnya teknologi produksi yang digunakan serta terbatasnya nuansa warna hijab hasil produksi menjadi kendala utama bagi perluasan segmen pasar hijab UMKM ini sehingga pengembangan usaha menjadi terhambat.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unesa yang terdiri dari Samik, S.Si., M.Si sebagai ketua, Dr. Agus Budi Santoso, M.Pd sebagai anggota dan Widiya Oktavia Dwi Setiowati sebagai mahasiswa pelaksana lapangan telah menggagas 3 kegiatan yaitu introduksi teknologi pengering dan bordir, diversifikasi pewarnaan alami yang dapat memperkaya nuansa warna hijab UMKM mitra. Keberhasilan pelaksanaan ketiga kegiatan tersebut diharapkan akan semakin memperkuat eksistensi UMKM “Najwa”.

Dalam proses produksi hijabnya, “Najwa Hijab” menerapkan beberapa tahapan proses, meliputi pencucian dengan TRO, mordanting dengan tawas dan abu soda, pewarnaan, fiksasi, pembilasan, dan pengeringan. Melalui pencucian menggunakan TRO, diharapkan bahan hijab bebas dari berbagai macam kontaminan. TRO atau Turkeys Red Oil merupakan jenis surfaktan yang mampu membersihkan kain dari berbagai macam pengotor, baik yang berbasis air maupun lemak, yang dapat menghalangi reaksi antara pewarna dengan serat kain. Sementara pelaksanaan mordanting berfungsi menyediakan senyawa perantara yang akan menjembatani terjadinya reaksi, khususnya di antara serat kain dan pewarna alami yang memiliki kecenderungan muatan yang sama. Mordanting menjadi salah satu tahapan penentu keberhasilan pewarnaan alami pada serat kain.

Gambar 2. Proses TRO kain hijab

Mordan merupakan senyawa kompleks logam dengan muatan positif bervalensi lebih dari satu yang akan mengikat senyawa penyusun serat kain pada satu sisi dan pewarna alami pada sisi yang lain. Pengaplikasian material ini mampu meminimalisasi kegagalan pewarnaan karena penggunaan jenis serat kain dan pewarna alami dengan kecenderungan muatan yang sama. Mordan yang umum digunakan dalam pewarnaan adalah jenis mordan logam, seperti tawas. Terkait hal ini, karena cenderung mengandalkan formulasi turun-temurun disertai penguasaan konsep pewarnaan yang terbatas, para pelaku usaha hijab seringkali menemui kegagalan pewarnaan alami, yang biasanya disebabkan oleh penggunaan mordan yang tidak tepat.

Gambar 3. Proses mordanting kain hijab

Pewarnaan alami adalah tahapan yang paling menentukan daya tarik hijab. Intensifnya produksi hijab yang mengandalkan pewarna sintetik di seluruh wilayah Indonesia menimbulkan beragam kekhawatiran, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan para pengguna hijab. Kekhawatiran ini semakin diperparah oleh fakta yang menunjukkan fluktuatifnya reaksi yang terjadi di antara serat kain dan pewarna sintetik (15-85%). Kondisi ini memunculkan permasalahan baru, terutama karena tingginya kadar limbah pewarna yang terbuang ke lingkungan. Toksisitas dan sifat karsinogenik pada hampir seluruh pewarna sintetik semakin memperburuk kondisi ini.

Gambar 4. Proses pewarnaan kain hijab dengan pewarnaan alami metode non tie-dye

Gambar 5. Proses pewarnaan kain hijab dengan pewarnaan alami metode tie-dye

Dengan berbagai kekhawatiran di atas, pewarna alam menjadi satu-satunya alternatif pewarnaan hijab yang tidak hanya aman bagi penggunanya, tetapi juga ramah bagi lingkungan. Meski telah menjalankan produksi hijab dengan pewarna alam berbasis kulit manggis dan kayu secang serta kunyit, permasalahan terkait keterbatasan nuansa dan tingkat kerataan warna menjadi permasalahan tersendiri yang menghambat pengembangan produksi hijab pewarna alam “Najwa”. Melalui kegiatan ini, Tim PKM Unesa telah mengintroduksikan pemanfaatan material pewarna alami baru yang ketersediaannya melimpah di sekitar lokasi usaha hijab “Najwa”, yaitu daun mangga. Untuk semakin meningkatkan ketahanan lunturnya, prosedur pewarnaan alami yang diintroduksikan, diakhiri dengan penguncian warna atau fiksasi menggunakan tunjung, tawas dan kapur tohor.  Pengaplikasian fixer yang berbeda menghasilkan nuansa warna yang juga berbeda. Hasil kegiatan ini telah menghasilkan sejumlah nuansa warna baru, yang diberi nama olive (ungu kecoklatan), blush (ungu gelap), dark terra (soft pink), mustard (oranye kekuningan), dark army (abu-abu kehitaman), burgundy (ungu sangat gelap), dark red (merah gelap), dan lemon (kuning cerah). 

Gambar 6. Proses fiksasi kain hijab

Gambar 7. Nuansa warna baru dari pewarna alam yang digunakan

Pencucian & Pengeringan menjadi tahapan produksi hijab yang tidak kalah pentingnya. Tahapan ini akan memastikan kain bebas dari residu pewarna dan fixer. Terkait hal ini, sangat disayangkan bahwa UMKM mitra masih mengandalkan pengeringan dengan bantuan cahaya matahari. Kondisi ini memunculkan resiko keterlambatan produksi karena besarnya ketergantungan UMKM “Najwa” dengan kondisi alam, terlebih lagi ketika cuaca semakin tidak menentu. Waktu pengeringan yang tidak standar pada metode pengeringan ini seringkali memunculkan warna “mbladus” pada produk hijab pewarna alam “Najwa”. Pemanfaatan teknologi pengeringan menjadi solusi ideal bagi permasalahan ini.

Gambar 8. Pemanfaatan teknologi pengeringan dalam produksi hijab pewarna alam “Najwa”

Tidak hanya fokus pada perbaikan proses dan teknologi, diversifikasi produk menjadi suatu keharusan bagi pelaku industri fashion, seperti yang selama ini dijalankan oleh UMKM “Najwa”. Perkembangan jaman yang sudah semakin modern, semakin menuntuk industri hijab untuk mampu menyediakan fashion hijab yang tidak hanya praktis namun juga modis dan up to date. Penga plikasian teknologi bordir pada berbagai produk hijab instan “Najwa” menjadi jawaban untuk permasalahan ini. Langkah diversifikasi produk hijab ini diharapkan tidak hanya akan menghindari kejenuhan pasar tetapi juga mampu memperluas segmen pasar produk hijab “Najwa”.

Gambar 9. Proses produksi hijab instan “Najwa”

Gambar 10. Produk hijab instan “Najwa” yang dipercantik dengan aplikasi bordir

Gambar 11. Penyerahan mesin bordir dan neci dari Tim Pelaksana PKM Unesa kepada UMKM “Najwa”

Catatan: Bagi yg ingin kerjasama pelatihan penggunaan pewarna alami bisa menghubungi 085731160005

Leave a Comment