Was-was Krisis Air Bersih 2025, Unesa Ajak Pengusaha Batik Lamongan Kembali ke Alam

Sudah mendunia cerita Indonesia yang terkenal dengan banyak warisan budaya dari nenek moyang secara turun temurun. Salah satunya adalah batik. Unesco bahkan telah mengakui batik sebagai warisan budaya non benda, asli Indonesia sejak tahun 2009. Prestasi yang sangat membanggakan bukan?


Tak sebatas menjadi identitas Bangsa Indonesia, batik juga mampu memberikan dampak positif bagi sektor perkonomian sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan masyarakat Indonesia. Di era millenial ini batik telah mengalami peningkatan keberagaman berupa motif, warna, jenis bahan, teknik, dan desain busananya.

Gambar 1. Batik Pewarna alam “Merah Putih”

Indonesia dikenal dengan negara ribuan pulau dan ribuan ras, setiap ras memiliki khas batiknya maisng-masing sehingga bisa dibayangkan betapa banyak motif batik yang dimiliki oleh Indonesia. Kabupaten Lamongan adalah salah satu daerah penghasil batik yang terkenal dengan motif khas pesisirnya.

Gambar 2. Motif batik Lamongan yang diproduksi oleh UMKM Batik Tulis “ABSS”

UMKM Batik Tulis “ABSS” adalah satu dari sekian banyak UMKM penghasil Batik Tulis di wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur. Desain khusus yang menjadi andalan usaha batik ini salah satunya adalah desain batik ubur-ubur. Meski telah tampak peningkatan usaha pada UMKM mitra, namun pelaksanaan sejumlah tahapan produksi yang masih bergantung pada pihak kedua. Hal ini menjadi sebab UMKM mitra kesulitan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kain batiknya.

Tahapan yang dimaksud meliputi persiapan kain mori, pembatikan dan pewarnaan yang masing-masing masih terbatas pada penggunaan malam tawon murni, dan pewarna batik sintetik.

Gambar 3. Proses produksi kain batik tulis UMKM “ABSS”

 Sangat disayangkan bahwa UMKM mitra masih mengandalkan keberadaan kain mori komersial siap batik yang beredar di pasaran, hal ini memicu produksi tidak dapat berlangsung secara kontinyu sehingga berpotensi mengecewakan pelanggan tetap. Disamping itu UMKM mitra masih mengandalkan malam komersial dari malam tawon murni dimana harganya cukup mahal.

Tak ayal kedua kelemahan diatas telah menyebabkan peningkatan biaya produksi batik yang otomatis berdampak pada harga kain batik tulis yang dipasarkan mahalnya selangit. Proses pewarnaan yang terbatas pada pewarnaan sintetik pun mempersempit segmen pasar UMKM mitra.
Tim Peneliti Unesa yang diketuai oleh Dr. Nita Kusumawati M.Sc dan beranggotakan Dr. Anang Kisyanto, M.Si dibantu oleh dua mahasiswa yaitu Arif Harmadi Wicaksono dan AR Sella Auliya menggagas beberapa kegiatan yang diklaim mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi serta memperluas segmen pasar produk batik tulis UMKM mitra.

Melalui introduksi pre-treatment (pencucian dan mordanting) kain mori, pembatikan menggunakan malam batik modifikasi, pewarnaan dengan pewarna alami dari daun mangga, diharapkan kendala produksi yang dialami oleh UMKM mitra dapat teratasi.

Melalui pencucian menggunakan TRO, bahan kain diharapkan dapat terbebas dari kontaminan. TRO atau Turkeys Red Oil adalah jenis surfaktan yang mampu membersihkan kain dari berbagai macam pengotor terutama lemak yang dapat menghalangi pelapisan malam pada proses pembatikan dan pengikatan pewarna oleh serat kain. Lebih lanjut, pelaksanaan mordanting yang termasuk dalam tahapan pre-treatment, juga menjadi tahapan penentu keberhasilan pewarnaan alami pada serat kain.

Mordant adalah senyawa kompleks logam dengan muatan positif bervalensi lebih dari satu, memiliki peran menjembatani terjadinya reaksi pewarna dengan kain. Kecenderungan muatan yang sama antara serat kain dengan pewarna telah menghambat optimalnya pewarnaan. Mordan yang umum digunakan dalam pewarnaan adalah jenis mordan logam, seperti tawas. Mengandalkan formulasi turun-temurun disertai penguasaan konsep pewarnaan yang terbatas, para pelaku usaha batik seringkali menemui kegagalan pewarnaan , biasanya disebabkan oleh penggunaan mordant yang tidak tepat.

Gambar 4. Proses TRO kain mori

 Berdasarkan waktu pelaksanaanya, mordanting dibagi menjadi 3 jenis yaitu pre- mordanting, simultan, dan post-mordanting. Demi mendapatkan nuansa dan kualitas warna yang diinginkan, pemilihan metode mordanting harus disesuaikan dengan jenis pewarna alam yang digunakan. Pewarna alami dengan kecenderungan muatan positif, akan membutuhkan post-mordanting, sementara sebaliknya, pewarna alami dengan kecenderungan muatan negatif, lebih membutuhkan metode pre-post mordanting,. Pemanfaatan yang benar dari mordant tawas akan menghasilkan kestabilan, distribusi dan kekuatan warna yang tinggi pada kain.

Gambar 5. Proses Mordanting kain mori yang sudah di TRO

Tak hanya pre-treatment, keberhasilan pengaplikasian material dyes resist (penolak warna) juga menjadi salah satu kekuatan dari keindahan sebuah kain batik. Penutupan sebagian motif pada kain menggunakan malam tawon menjadi cara untuk menampilkan motif yang diinginkan. Sayangnya selama ini, hampir seluruh pembatik di Indonesia mengandalkan keberhasilan pembatikannya pada malam tawon, padahal harga material ini cukup mahal. Kondisi ini tentu memicu tingginya biaya produksi hingga berujung pada tingginya harga jual produk batik bersangkutan. Meski di sejumlah kecil pelaku usaha batik telah mengaplikasikan material dyes resist lain, seperti Gondorukem, Paraffin dan Kendal, tapi pemanfaatannya masih tidak terstandarisasi atau cenderung mengandalkan insting. Hal ini menjadi salah satu penyebab sulitnya mendapatkan sejumlah kain batik, terutama tulis, yang benar-benar memiliki kualitas motif yang sama.

Gondorukem (resina colophonium) adalah olahan getah hasil sadapan pada batang tusam (Pinus) berbentuk keping-keping padat berwarna kuning keemasan. Titik leburnya yang jauh lebih tinggi dari malam tawon menyebabkan gondorukem tidak dapat berdiri sendiri dalam proses pembatikan. Pemanfaatannya bersama sebagian kecil malam tawon akan menghasilkan kualitas motif yang tipis pada kain. Serupa dengan ini, paraffin menjadi material dyes resist yang juga mampu menghasilkan garis motif yang tipis. Satu-satunya pembeda kualitas pembatikan dengan gondorukem dan paraffin hanya pada kemampuan paraffin yang mampu berdiri sendiri sebagai material dyes resist. Sementara itu, penggunaan Kendal dalam pembatikan juga harus disertai dengan malam tawon. Hal ini terutama disebabkan oleh titik lebur kendal yang lebih rendah daripada malam tawon. Penggunaan Kendal sebagai material dyes resist tunggal cenderung menghasilkan garis motif yang tebal atau melebar. tak kalah dengan Gondorukem, Paraffin dan Kendal, limbah malam tawon yang dihasilkan sebagai produk samping pembatikan pun terbukti mampu menghasilkan kualitas motif yang tidak berbeda secara signifikan dengan malam tawon. Hal ini menggembirakan, mengingat kuantitas limbah padat berupa malam tawon dihasilkan secara intensif oleh pelaku usaha batik setiap harinya.

Gambar 6. Proses pembatikan pada kain mori yang telah di TRO dan mordanting, menggunakan malam modifikasi hasil riset

Pewarnaan alami menjadi tahapan akhir yang paling menentukan daya tarik kain batik. Intensifnya produksi batik tulis yang mengandalkan pewarna sintetik di seluruh wilayah Indonesia menimbulkan beragam kekhawatiran, khususnya yang berkaitan dengan dengungan World Health Organization (WHO) yang meramalkan terjadinya krisis air bersih di seluruh dunia pada 2025, jika pencemaran akibat limbah industri terus berlangsung.

Kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi karena dalam pewarnaan, hanya 15-85% pewarna sintetik yang mampu berikatan dengan kain, sisanya terbuang sebagai limbah. Toksisitas dan sifat karsinogenik pada hampir seluruh pewarna sintetik semakin memperburuk kondisi ini. Tercatat, sejumlah besar sungai di wilayah penghasil batik terbesar di Indonesia, yaitu Yogya, Solo dan Pekalongan telah tercemar berat. Meski tidak menjadi satu-satunya, industri batik diprediksikan turut berperan aktif dalam menyumbangkan sejumlah besar limbah cair, khususnya pewarna, ke lingkungan perairan. Hal ini terutama berkaitan dengan sifat industri ini yang konsumtif air pada setiap tahapan produksinya.

 ‘Kembali ke alam’ menjadi satu-satunya alternatif pewarnaan batik yang ramah lingkungan sebagai solusi terhadap permasalahan diatas. Daun mangga menjadi salah satu material pewarna alam karena kandungan mangiferin dan xanton (kristal kuning) berpotensi sebagai pewarna alami batik. Ekstrak daun mangga memberikan nuansa warna kuning kehijauan. Meski demikian, ketika diaplikasikan pada kain, warna ini dapat mengalami perubahan hingga 180 derajat, dipengaruhi oleh senyawa fixer atau pengunci warna yang digunakan pada tahapan akhir pewarnaan. Fixer sendiri berperan mengunci warna pada serat kain sehingga tidak banyak melakukan kontak dengan berbagai komponen di lingkungan sekitar. Dengan demikian, ketahanan luntur warna batik dapat ditingkatkan.

Sejalan dengan keberhasilan introduksi Ipteks pada UMKM ABBS Lamongan ini, diharapkan UMKM mitra dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan akan prosedur pre-treatment, pembatikan dan pewarnaan menggunakan pewarna alami yang akan berujung pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, serta perluasan segmen pasar. Kesemuanya ini tentu akan meningkatkan kemandirian dan eksistensi UMKM ABBS di tengah dinamika persaingan industri fashion yang sangat tinggi.

Gambar 7. Proses pewarnaan kain mori yang telah di batik
Gambar 8. Hasil pewarnaan kain batik menggunakan pewarna alam

Gambar 8. Hasil pewarnaan kain batik menggunakan pewarna alam

Leave a Comment