PLP di SMA Trensains Tebuireng Jombang

Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Unesa 2019 dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa program studi Pendidikan. Pelaksanaan PLP terbagi menjadi 3 tahap yaitu observasi, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi mengajar. Pada kesempatan kali ini, terdapat 2 mahasiswi dari Pendidikan Kimia Unggulan 2016 yaitu Siti Malichah dan Rezi Ulya Fauziah yang merupakan peserta terpilih berdasarkan hasil dari seleksi transkrip dan skor TOEFL oleh jurusan kimia, yang kemudian ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan praktek mengajar di SMA Trensains Tebuireng Jombang.


SMA Trensains (Pesantren Sains) Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan di Pesantren Tebuireng yang didirikan pada tahun 2014 oleh Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid (Pengasuh Pesantren Tebuireng) hasil kerja sama dengan KH. Agus Purwanto, D.Sc penggagas konsep Pesantren Sains (Trensains) yang sekaligus ilmuwan di bidang fisika teoritik dari ITS Surabaya. SMA Trensains mempunyai konsep sekolah yang tidak hanya menggabungkan materi Pesantren dengan ilmu pengetahuan umum sebagaimana pesantren modern. SMA Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur’an, Al Hadist, dan Sains kealaman (natural science) serta interaksinya, yang dimana memiliki interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak dimiliki oleh pesantren modern lainnya.


Kurikulum SMA Trensains Tebuireng yang selanjutnya disebut “kurikulum semesta” merupakan unifikasi dari kurikulum nasional, kurikulum muatan kearifan pesantren sains (MKPS), dan kurikulum internasional (Cambridge Curriculum). Kurikulum Semesta merupakan kurikulum yang dikembangkan oleh tim pengembang kurikulum SMA Trensains Tebuireng bersama penggagas Trensains dan Tim pengembang kurikulum dari FMIPA UNESA. Secara umum bahwa kurikulum semesta merupakan hasil adapt-adopt dari ketiga kurikulum tersebut, dimana kurikulum semesta menitikberatkan pada pemahaman al Qur’an pada setiap aktivitas pembelajarannya.


Komposisi mata pelajaran pada kurikulum semesta yang diterapkan di SMA Trensains terdiri dari dari tiga kelompok yaitu kelompok mata pelajaran utama, kelompok mata pelajaran tool of trensains, dan kelompok mata pelajaran additional. SMA Trensains (pesantren sains) adalah sebuah konsep pesantren yang disintesakan dengan Sekolah Menengah Umum yang bertujuan untuk mengkaji sains melalui fenomena yang ada di alam secara mendalam, baik melalui pembelajaran, penelitian maupun percobaan-percobaan ilmiah yang mengacu pada ayat-ayat kauniyah.
Pada minggu pertama, mahasiswa secara langsung diminta untuk mengisi materi di kelas XI sebanyak 4 kelas, yaitu XI-Science 1 (putra), XI-Science 2 (putra), XI-Science 3 (putri), dan XI-Science 4 (putri) dikarenakan guru mata pelajaran kimia yang bersangkutan sedang mengurus proses wisuda S2 di Universitas Indonesia. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa juga melakukan observasi tentang karakteristik peserta didik di SMA Trensains.
Pada minggu kedua, mahasiswa juga diminta untuk mengisi materi di kelas X sebanyak 5 kelas, yaitu X-Science 1 (putra), X-Science 2 (putra), X-Science 3 (putri), X-Science 4 (putri), dan X-Science 5 (putri). Kegiatan belajar mengajar berlangsung kondusif mengingat karakteristik peserta didik yang memilki kemampuan akademis di atas rata-rata dan memiliki pemikiran yang kritis. Hal tersebut dikarenakan selain nilai akhir sekolah pada jenjang pendidikan sebelumnya sebagai persyaratan administratif, penempatan peserta didik didasarkan pada hasil Tes Potensi Akademik (TPA), Tes Baca Al-Quran, dan Tes Toefl. Khusus untuk syarat TPA, peserta didik baru diharuskan ber-IQ minimal 110, dikarenakan urgensi pembelajaran yang membutuhkan kemampuan peserta didik lebih besar yaitu mampu belajar sains, teknologi serta pembelajaran pondok pesantren yang harus berjalan sinergis.


Sekolah membatasi penggunaan alat elektronik seperti handphone, laptop, media player, dan sebagainya. Sehingga, sumber belajar yang digunakan peserta didik hanyalah buku teks dan penjelasan dari guru. Peserta didik sulit untuk mencari sumber belajar lain dari internet, sehingga dengan adanya hal ini guru dituntut kreatif dan inovatif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru harus menjadi fasilitator peserta didik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau informasi terbaru yang dapat menunjang hasil belajar peserta didik.


Selain itu, mahasiswa juga dituntut untuk aktif dalam mengikuti kegiatan korikuler dan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah. Beberapa di antaranya adalah kegiatan jurnalistik, My-Quran, Pramuka, B-UP (Books Upgrading), English and Arabic Upgrading (E-UP dan A-UP), dan sebagainya.


Dengan adanya kegiatan PLP ini diharapkan mahasiswa mampu memantapkan kompetensi akademik kependidikan dan bidang studi yang telah diperoleh dari perkuliahan dan disertai dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang nantinya akan diterapkan di sekolah.

Leave a Comment