Aksi Nyata Unesa Kawal Baureno Menuju Desa Hortikultura

Tahukah Anda, dari 40.000 tanaman di dunia, 30.000 tanaman tumbuh baik di Indonesia, dimana 7.000 teridentifikasi tanaman obat, 1.000 tumbuhan penghasil racun, dan 50 tanaman lainnya merupakan tanaman aromatik. Luar biasa sekali bukan? 

Tapi nyatanya ada hal yang patut disayangkan. Menurut penelitian, dari sejumlah besar tanaman obat Indonesia, baru 15% dibudidaya, sedangkan 85% sisanya diperoleh dengan mengambil langsung dari hutan, empon-empon misalnya. Selain itu masyarakat Indonesia umumnya langsung menjual empon-empon dalam keadaan segar, padahal nilai jual empon-empon segar sangatlah rendah.

Lebih ironisnya lagi, Indonesia justru mengimpor dari negara-negara pengimpor empon-empon segar Indonesia, seperti Singapura, Malaysia dan Jepang dalam berbagai berbentuk berbagai produk herbal olahan.

Program Penelitian Prioritas Nasional (Penprinas) Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2016 membuktikan bahwa proses pengolahan empon-empon menjadi simplisia telah mampu meningkatkan potensi ekonomi material empon-empon hingga 100% atau dua kali lipat dari semula, bahkan pengolahan lebih lanjut dari produk simplisia kering menjadi serbuk simplisia telah meningkatkan potensi ekonomi material empon-empon hingga mencapai 900%. Tak hanya dalam bentuk simplisisa, empon-empon juga sangat berpotensi diolah menjadi berbagai jenis produk seperti produk manisan, teh, dan minuman instan.

Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro merupakan kawasan dengan kekayaan utama pada hasil pertanian khususnya empon-empon dan mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah petani. Dengan mata pencaharian itu sebagian kecil waktu masyarakat disibukkan dengan aktivitas besar pada musim tertentu seperti saat masa tanam dan masa panen, sementara sebagian besar waktu tersisa dihabiskan untuk sejumlah kecil aktivitas regular pertanian seperti urusan pemupukan, pengairan dan penghilangan tanaman pengganggu. Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan penduduk tidak stabil.

Upaya pengolahan empon-empon telah cukup lama dirintis melalui kegiatan Penelitian Prioritas Nasional (Penprinas) Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)  yang dikoordinasi oleh Tim Oeneliti Unesa (Tahun 2016-sekarang) bekerjasama dengan UMKM “Al Firah” yang berlokasi di Dukuh Ketawang RT.02 RW.01 Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. UKM tersebut berhasil mengais pendapatan sebesar 5 hingga 7jt/bulan. Akan tetapi, belakangan ini muncul kendala yakni kurangnya tenaga kerja produksi.

Diklaim memberi banyak manfaat untuk kesehatan dan kecantikan serta memiliki omzet bisnis hingga mencapai 13 triliun/tahun dan menilik dari berbagai latar belakang diatas, mahasiswa Prodi Kimia Unesa mengajak warga Kecamatan Baureno terutama para ibu rumah tangga untuk mengasah keterampilan dan pengetahuan dalam olahan herbal.

Melalui KKN PPM ini diharapkan para ibu rumah tangga di Kecamatan Baureno bisa bergandengan dengan UMKM “Al Firah” sebagai tenaga kerja produksi disela kegiatannya bertani dan mengurus keluarga. Dengan begini kendala yang dimiliki oleh UMKM “Al Firah” teratasi, ibu rumah tangga Kecamatan Baureno bisa lebih mandiri dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya serta andil dalam menyemarakkan kembali budaya jamu atau olahan herbal.

“Dengan pertimbangan kondisi ekonomi warga Baureno dan potensi alam yang ada di wilayah itu, kami ingin mereka lebih produktif dan mandiri terhadap kekayaan alam mereka sendiri. Harapannya, ya ide ini bisa meningkatkan keterampilan sekaligus kesejahteraan warga Baureno.” ujar Pirim Setiarso.

Sebanyak 22 mahasiswa Jurusan Kimia Unesa terjun langsung ke Desa Baureno dalam kegiatan KKN PPM dibawah koordinasi Dr. Pirim Setiarso M.Si sebagai koordinator lapangan untuk memberikan pelatihan pembuatan produk olahan herbal kepada 20 orang warga setempat.

Menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), kegiatan ini melibatkan “orang dalam” yang dalam hal ini adalah khalayak sasaran (kelompok masyarakat Baureno Bojonegoro) dan UMKM “Al Firah” dengan difasilitasi oleh orang luar (Tim Pelaksana KKN-PPM Unesa) yang lebih berfungsi sebagai narasumber atau fasilitator dibanding sebagai instruktur atau guru yang menggurui.

Pelatihan diberikan kepada warga secara berkala mulai tahap pertama yaitu manisan herbal jahe dan kencur, dilanjut dengan teh herbal jahe dan temulawak, diakhiri dengan produk minuman herbal instan jahe dan kunyit.

Gambar 1. Introduksi manisan herbal jahe dan kencur (kiri: penyuluhan  oleh mahasiswa kepada peserta pelatihan, tengah: pendampingan peserta oleh mahasiswa, kanan: produk manisan herbal)

Manisan herbal jahe dan kencur dibuat melalui prosedur pencucian, pengupasan, perajangan, perendaman dalam air garam, perebusan dengan air gula. Melalui proses ini didapatkan tekstur unik dari manisan berupa kenyal dan rasa manis. Pengemasan produk ini megikuti trend millenial yaitu menggunakan standing pouch agar daya simpan produk lebih panjang.

Teh herbal jahe dan temulawak pun sama, melewati beberapa tahapan prosedur yang cukup sederhana yaitu , pengupasan, pemarutan, pengeringan, dan pengemasan mengguankan tea bag dan tea box .

Gambar 2. Introduksi teh herbal jahe dan temulawak (kiri: penyuluhan  oleh mahasiswa kepada peserta pelatihan, kanan: pendampingan peserta oleh mahasiswa)

Minuman herbal instan jahe dan kunyit  diproduksi melalui beberapa prosedur diantaranya pencucian, pengupassan, penghalusan rimpang, penyaringan, pengendapan, pemasakan sari rimpang dengan penambahan gula dan stevia, terakhir ada penghalusan  serbuk dan pengemasan. Ada yang unik dari produksi ini, yaitu digunakan ekstrak daun tanaman Stevia dalam pembuatan minuman herbal instan. Penambahan ekstrak daun stevia yang di klaim rendah kalori tapi memiliki rasa manis yang pekat ini bertujuan unutk menggantikan setengah komposisi gula pasir sehingga konsumen tidak perlu khawatir dengan dampak dari kelebihan kalori dan produk aman dikonsumsi bahkan oleh penderita diabetes sekalipun. Sama seperti manisan herbal, pengamasan dilakukan secara modern dan kekinian yaitu menggunakan standing pouch dengan tujuan memperpanjang masa simpan produk.

Gambar 3. Introduksi minuman herbal instan jahe dan kunyit (kiri: penyuluhan  oleh mahasiswa kepada peserta pelatihan, tengah: pendampingan peserta oleh mahasiswa, kanan: produk minuman herbal instan )

Disela kegiatan pelatihan produk olahan herbal, Tim KKN PPM juga memberikan edukasi dan pelatihan pemilahan pengolahan sampah, dan kompos. Di kecamatan Baureno lebih khususnya di RT 01 kegiatan pemilahan sampah organik dan anorganik belum terlalu marak, padahal ada dampak signifikan ketika sampah tidak dipilah seperti proses degradasi tidak maksimal misalnya. Sampah organik pun degradasinya sangat lambat jika tidak dipicu oleh suatu zat dan lama proses degradasi tidak sebanding dengan bertambahnya sampah setiap hari. Pelatihan kompos diberikan untuk mengatasi dampak-dapak diatas. Tahap ini diakhiri dengan pembagian tong sampah basah dan kering yang dibuat semenarik mungkin sebagai pemicu agar warga membiasakan buang sampah sesuai dengan jenisnya.

Gambar 4. Introduksi pengolahan sampah (kiri: penyuluhan oleh mahasiswa kepada peserta pelatihan, tengah: pendampingan peserta oleh mahasiswa, kanan: tong sampah basah dan kering)

Tidak hanya kompos, Tim KKN PPM juga membagikan ilmu tentang bagaimana budidaya tanaman toga dan memfasilitasi peserta dalam prakteknya dengan membagikan tanaman toga untuk kemudian ditindak lanjuti oleh warga sendiri berbekal pengetahuan yang telah didapat. Mahasiswa menantang kreativitasnya sendiri dengan menghias tanaman tersebut sebelum diserahkan pada warga berupa pemberian plant tag dan ditata pada kotak kayu.

Gambar 5. Kegiatan pembagian tanaman toga (kiri: pembagian tanaman toga, kanan: tanaman toga yang diserahkan pada warga)

Tim Pelaksana KKN PPM juga berkesempatan turut andil memeriahkan beberapa kegiatan yang diadakan oleh warga setempat seperti jalan sehat dan renovasi gapura serta gang bersama karang taruna setempat. Momen seperti ini sangat tepat bagi Tim Pelaksana untuk menjalin hubungan lebih baik dengan warga setempat. 

Gambar 6. Tim pelaksana menyemarakkan kegiatan warga (kiri: renovasi gang dan gapura, kanan: jalan sehat)

Kegiatan KKN PPM ini telah membawa dampak signifikan bagi Kecamatan Baureno. Dimana warga menjadi lebih terampil dan berpengetahuan dalam mengolah potensi alam empon-empon menjadi produk manisan herbal, teh herbal, dan minuman herbal instan serta kompos. Warga lebih antusias membuang sampah berdasarkan jenis dengan adanya tong sampah basah dan kering. 

“Saya pribadi sangat senang, Mbak. Karena belum pernah dan belum tau cara membuat manisan, teh, dan minuman herbal seperti itu. Kami senang karena mbak dan mas nya dengan sennag hati membagikan ilmu kepada kami. Terimaksih banyak.” ujar Sunarni, salah satu peserta pelatihan.

Gambar 7. Foto Before after pekarangan warga setelah pembagian tong sampah dan tanaman toga (kiri: sebelum diberi tong sampah dan tanaman toga, kanan:setelah diberi tong sampah dan tanaman toga)

Gambar 8. Foto Before after gang dan gapura kegiatan renovasi  (kiri: sebelum direnovasi, kanan:setelah direnovasi)

Leave a Comment