Kunjungan industri ke PT CAMPINA ICE CREAM INDUSTRY

Pada tanggal 9 April 2019, kelas Pendidikan Kimia Unggulan 2016 Universitas Negeri Surabaya melaksanakan kunjungan industri ke PT Campina Ice Cream Industry yang berlokasi di Jalan Rungkut II No 15-17 Surabaya, Jawa Timur. PT Campina Ice Cream Industry merupakan pabrik es krim yang berdiri sejak 22 Juli 1972 yang di dirikan oleh Bapak Darmo Hadipranoto dengan nama CV Pranoto yang bertempat di halaman rumah Bapak Darmo dijalan Gembong Sawah Surabaya. Pada tahun 1982 pindah ke Jalan Rungkut Industri II No 15-17 Surabaya dan berubah nama menjadi PT Campina Ice Cream Industry pada tahun 1994 dan terus berkembang sampai saat ini. Dalam proses pemasarannya sejak tahun 1973 produk es krim “Campina” ini mulai menjangkau luar kota Surabaya. Cara penjualan Campina juga mulai beragam, dari menggunakan armada sepeda, freezer armada sepeda, freezer. Pada tahun 1974, usaha ini berkembang semakin pesat sehingga Gubemur Jitwa Timur pada saatitu, yaitu Bapak Muhammad Noer tertarik sehingga beliau meninjau sendiri home industry es krim tersebut yang mampu menembus pasar hingga ke luar kota Surabaya. Pada tahun 1976, diadakan pengembangan pada home industry tersebut, seluruh bangunan rumah dijadikan pabrik kecil disertai dengan penambahan mesin baru. Pada tahun 1982 lokasi pabrik dipindahkan ke lokasi PT. SIER tepatnya di jalan Rungkut Industri II No. 17, Surabaya Pada tahun 1994 melakukan kerja sama dengan Bapak Sabana Prawirawidjaja yang merupakan permilik PT. Ultra Jaya.


Dalam proses produknya, ice cream memiliki tiga komponen utama, yaitu: susu (lemak), gula pasir dan air. Untuk bahan tambahan antara lain stabilizer, emulsifier, penambah rasa dan pewarna. Susu yang digunakan adalah susu bubuk (skim bubuk) yang diimpor dari Selandia Baru dengan kandungan lemak kurang dari 1%. Gula pasir menggunakan gula pasir dari produk local. Emulsifier digunakan untuk mempercepat proses pembangunan distribusi lemak dan udara yang memengaruhi pembentukan tekstur, biasanya menggunakan lesitin dari kedelai atau gliserol monostearate. Stabilizer digunakan untuk menjaga struktur ice cream, biasanya menggunakan maltodekstrin atau polisakarida lain. Penambah rasa menggunakan hasil bumi seperti durian medan.
Proses produksi terdiri dari lima tahap utama. Tahap pertama adalah penyimpanan bahan baku dalam gudang penyimpanan. Tahap kedua adalah pengujian bahan baku menggunakan teknik sampling. Bahan baku diuji di laboratorium kimia fisika dan laboratorium mikroba. Laboratorium kimia fisika dilakukan uji kadar air dan uji kadar lemak (maksimal 1%). Laboratorium mikrobiologi dilakukan uji coba kandungan bakteri, bahan baku dikatakan layak apabila bakteri yang terkandung maksimal 0,01%. Bahan baku yang tidak memenuhi kriteria akan dikembalikan ke supplier. Tahap ketiga adalah proses produksi yang dilakukan menggunakan mesin, kecuali beberapa bagian packaging yang menggunakan tenaga manusia. Proses packaging dilakukan maksimal selama 5 menit mulai dari produk jadi dalam suhu ruang. Produk yang telah dikemas kemudian dimasukan ke dalam ruang pensteril dengan suhu -150C sebelum dikirim ke gudang penyimpanan. Pada tahap ketiga ini akan dilakukan uji control setiap satu jam dengan pengambilan bahan ice cream. Uji control dilakukan seperti tahap 2. Apabila ditemukan kadar bakteri diatas 0,01%, maka produk mentah akan dikarantina selama 3 bulan dan diuji kembali. Apabila masih belum memenuhi kriteria kandungan bateri, maka akan dikarantina kembali selama 6 bulan dan akan dibuang sebagai limbah apabila hasil akhir tetap tidak memenuhi standar kandungan bakteri pada produk mentah. Tahap keempat adalah penyimpanan produk di dalam gudang dengan suhu ruang -300C selama maksimal 30 hari penyimpanan. Tahap kelima adalah pemasaran produk.

Leave a Comment